Film Indonesia yang vulgar dan kontroversial memang sering tidak mendapat restu untuk tayang di negeri sendiri. Malahan, film-film tersebut tayang dan diapresiasi

Kualitas film Indonesia akhir-akhir ini memang tidak bisa diragukan lagi. Banyak sekali film Indonesia yang meraih begitu banyak penghargaan bahkan di negeri orang. Tapi di balik apresiasinya di luar negeri, malahan film-film tersebut tidak lah tayang di Indonesia. Kok bisa ya? Ya, memang beberapa film Indonesia sengaja tidak tayang di Indonesia dan malah mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi di luar negeri. Ada beberapa alasan yang membuat film-film berkualitas itu tidak tayang di Indonesia. Alasan yang paling sering muncul adalah karena dana. Beberapa film festivalĀ judi online memang tidak ditayangkan di bioskop komersil karena dana yang terbatas dan karena juga faktor konten. Konten yang ada di film itu biasanya sensitif dan bisa menimbulkan pro dan kontra. Film-film tersebut kebanyakan memang ditayangkan pada acara festival film baik skala nasional atau internasional. Apa saja sih film Indonesia yang tak tayang di Indonesia tapi mendapatkan apresiasi luar biasa di luar negeri?

  1. Parts of the Heart (2012)

Film ini bercerita tentang seorang pria homoseksual bernama Peter yang tinggal di Jakarta. Dalam film ini ada 8 bab di mana sang sutradara berusaha menggambarkan kisah Peter yakni dari Cinta pertamanya (Stolen kiss), pengalaman seksual pertamanya (the game kiss), kematian sang pacar (solace), putus hubungan (club virgin), tekanan sosial (the last time), dan konflik dalam hubungan jangka panjang (3 and the couch and the cat). Dan puncaknya, setelah ia menikah dengan seorang perempuan, malahan ia tergoda dengan seorang pria lain lagi. Setelah itu, ia pun kembali mempertanyakan komitmennya kembali.

  1. Babi Buta yang Ingin Terbang (2008)

Di luar negeri, film ini berjudul Blind Pig who Wants to Fly. Ini adalah film drama yang dirilis pada tahun 2008 dan disutradari oleh Edwin. Bintang dari film ini adalah Pong Hardjatmo dan Ladya Cheryl. Film ini menceritakan gambaran etnis Tionghoa yang ada di Indonesia. Film ini menggambarkan 8 karakter serta bagaimana nasip menjadi keturunan Tionghoa yang tinggal di Indonesia.

  1. Something in the Way

Film ini disutradari oleh Teddy Soeriaatmadja. Ia adalah sutradara dari Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2006. Film ini memang sengaja tidak ditayangkan di Indonesia karena mengangkat tema agama, seksualitas, dan juga kemunafikan yang menggunakan visualisasi yang sedikit vulgar. Teddy sendiri sadar kalau filmnya ini akan menjadi sasaran empuk dari Lembaga Sensor Film (LSF). Film ini dibintangi oleh aktor TOP Indonesia, Reza Rahadian dan juga Ratu Felisha. Ahmad (Reza Rahadian) digambarkan sangat alim tapi nyatanya suka membeli DVD Porno dan masturbasi. Ia mempunyai rasa kepada tetangganya, Kinar (Ratu Felisha) yang bekerja sebagai pekerja seks komersial. Ahmad di sini melakukan semua cara agar Kinan bisa lepas dari cengkraman mucikari yang membuat Kinan terus menjadi PSK. Film ini mendapatkankan banyak penghargaan termasuk di World Premier di Berlin International Film Festival ke-63 pada tahun 2013 lalu.

Itu lah deretan film yang bagus dan diapresiasi oleh luar negeri namun sayang sekali tidak tayang di Indonesia. Agaknya Indonesia masih belum bisa menerima tema filmĀ movie online yang vulgar dan bisa mengundang pro dan kontra sehingga film-film macam di atas sayang sekali tidak diloloskan sensor. Lalu apakah kalian yang belum menonton film ini penasaran dan ingin menontonnya? Mungkin bisa kalian cari.